Friday, August 21, 2015

Sejarah Desa Cibiru Wetan

Sejarah Desa Cibiru Wetan

Desa Cibiru wetan artinya Desa Cibiru bagian timur (Wetan), nama Cibiru itu sendiri diambil dari nama sebuah pohon yaitu “Pohon Biru” yang konon katanya pernah tumbuh disebuah tempat yang sekarang berlokasi di RT 04 RW 07 Kp. Cibiru Tonggoh Desa Cibiru wetan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Dari akar pohon Biru tersebut  keluar mata air yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dan sekitarnya.

Cibiru adalah kata mudah dari Cai – biru berarti air yang keluar dari mata air pohon Biru  bukan berarti air yang berwarna biru. Karena keberadaan mata air dari Tangkal / Pohon Biru tersebut dinamakanlah Kampung Cibiru (yang sekarang disebut Cibiru Tonggoh) sedangkan nama Cibiru selanjutnya berkembang menjadi nama desa yaitu Desa Cibiru yang masuk wilayah Kecamatan Ujung Berung Kabupaten Bandung yang kemudian sesuai perkembangan wilayah Kotamadya Bandung Cibiru dijadikan nama Kecamatan dan Desa Cibiru lama berubah nama menjadi Kelurahan Pasir Biru.

Keberadaan Desa Cibiruwetan tidak bisa dilepaskan dari makam keramat sesepuh desa dan penyi’ar agama islam di wilayah Bandung Timur yang oleh sebagian besar masyarakat sangat diyakini senantiasa mengayomi (Ngajaga Ngarikasa) masyarakat dan wilayah Cibiru khususnya Desa Cibiruwetan. Keberadaan sesepuh desa masih dapat dibuktikan dengan adanya beberapa makam keramat dan petilasan antara lain:
  1. Situs Makam Keramat Embah Landros di Astana Gede RW 11 Kampung Warunggede.
  2. Situs Pabeasan yang diyakini petilasan Nyi Mas Entang Bandung di RW 11 Kampung Warunggede.
  3. Situs Makam Keramat Eyang Sawi (Ibu Sawi) di RW 05 Kampung Jadaria.
Selain keberadaan makam keramat kekayaan potensi sejarah dan wisata serta ziarah adalah keberadaan situs Haur Museur di Kampung Garung RW 03 Cikoneng, dan wanawisata serta situs Batu Kuda yang menurut keterangan para sesepuh setempat batu berbentuk kudu duduk itu adalah jelmaan seekor kuda tunggangan Prabu Layang Kusumah beserta istrinya yang sampai akhir hayatnya bertapa di Gunung Manglayang

Beberapa nama yang pernah menjadi Kepala Desa Cibiru diantaranya H.Asy’ari, M.Partaatmaja, Moh. Daud, M. Sukanda, dan Endang. Pada masa kepemimpinan / Kepala Desa Endang D. sekitar Tahun 1983/1984 dibentuk Tim Perumus Pemekaran Desa (TPPD) yang bertugas merumuskan pemekaran Desa Cibiru . maka sejak bulan April 1984 desa Cibiru resmi dimekarkan menjadi dua desa yaitu Desa Cibiru Kulon sebagai desa induk dan Desa Cibiru Wetan sebagai desa hasil pemekaran.

Setelah diberlakukan PP. No. 16 Tahun 1987 Desa Cibiru Kulon berubah  nama menjadi Desa Pasir Biru yang masuk wilayah Kecamatan Cibiru Kota Bandung. Nama Kecamatan Cibiru diadopsi dari nama Desa Cibiru yang berasal dari kata Cai-Biru atau air dari Pohon Biru .  Setelah dilaksanakan pemekaran Desa Cibiru, maka sejak tanggal 30 Juli 1984 berdirilah satu Desa baru yang dinamakan Desa Cibiru wetan. Sebagai pejabat sementara Kepala Desa Cibiru wetan ditunjuk salah seorang pamong desa dari desa induk yaitu Pak Usman (sebagai Juru Tulis Desa Cibiru).

Pada bulan Mei 1986 Pak Usman ditetapkan sebagai Kepala Desa Cibiru wetan yang definitife berdasarkan hasil Pemilihan Kepala Desa pada bulan April 1986.  Pada Tahun 1992 Desa Cibiru wetan dimekarkan menjadi Desa Cibiru wetan dan Desa Cibiru Hilir.  Kepala Desa Cibiru wetan secara berturut turut mulai Tahun 1986 sampai dengan sekarang  yaitu :
  1. Usman  periode 1984 s/d 1993
  2. Eddy Kusnadi sebagai Pejabat Sementara tahun 1993
  3. Tito Martin Kepala Desa Tahun 1994 s/d 2000
  4. U. Zaenudin Pejabat Sementara tahun 2000
  5. Ujang Oyo Didi Pejabat sementara tahun 2001
  6. Dade Sujana, Sm.Hk. Kepala Desa Tahun 1999 s/d 2006
  7. Dadang F Pejabat Sementara Tahun 2006
  8. Jajat SE. Kepala Desa Periode Tahun 2006 – 2012
  9. Asep Hasan Sadeli Periode 2012-2017
[Sumber: Pemerintah Desa Cibiru Wetan]
Share:

Profil Singkat Desa Cimekar

Profil Singkat Desa Cimekar

Gambaran Umum Desa Cimekar

Secara geografis Desa Cimekar merupakan daerah yang keadaan wilayahnya datar berbukit dan berada di Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Secara Historis Desa Cimekar merupakan pemekaran dari Desa Cinunuk, Kecamatan Ujungberung, Kabupaten Bandung pada tahun 1982. Pada Pertama kali Desa Cimekar melaksanakan Pemilihan Kepala Desa (PILKADES) pada tahun 1984.

Visi dan Misi

Desa Cimekar Kecamatan Cileunyi mempunai Visi yaitu "TERWUJUDNYA MASYARAKAT DESA CIMEKAR YANG (UTAMA) UNGGUL, SEJAHTERA DAN MANDIRI MELALUI TATA KELOLA PEMERINTAHAN DESA YANG BAIK BERLANDASKAN NILAI-NILAI AGAMA, BUDAYA DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN" dan Misi Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi yaitu:
  1. Meningkatkan kualitas iman dan taqwa melalui pembinaan, pengembangan, kerukunan umat beragama dan harmonisasi ulama, umaro dan masyarakat;
  2. Meningkatkan kualitas aparatur pemerintah desa dan kualitas pelayanan kepada masyarakat;
  3. Meningkatkan dan menumbuh kembangkan swadaya dan gotong royong masyarakat dalam pembangunan desa;
  4. Memberdayakan potensi masyarakat desa dan meningkatkan daya saing dan kemandirian desa;
  5. Mewujudkan ketersediaan dan peningkatan prasarana dan sarana fasiltas umum;
  6. Meningkatkan kualitas dan pelestarian lingkungan hidup.
Kondisi Geografis

A. Luas Wilayah

Luas wilayah Desa Cimekar ± 471,705 Ha yang terdiri dari :
  • Pemukiman : ± 230  Ha
  • Sawah : ± 108,4 Ha
  • Ladang : ±  84,839 Ha
  • Pekarangan : ±  39  Ha
  • Kolam : ± 8,216 Ha
  • Kuburan : ± 1,250 Ha
B. Batas Wilayah

Desa Cimekar terletak pada ketinggian rata-rata 600 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan suhu rata-rata 26 - 28 oC.

Batas-batas Desa Cimekar:
  • Sebelah Utara : Desa Cibiru Wetan
  • Sebelah Timur : Desa Cileunyi Kulon
  • Sebelah Selatan : Desa Tegal Sumedang
  • Sebelah Barat : Desa Cinunuk
C. Jarak tempuh ke lokasi Pemerintahan:
  • Jarak ke Ibu Kota Kecamatan : 1,5 Km
  • Jarak ke Ibu Kota Kabupaten : 34 Km
  • Jarak ke Ibu Kota Provinsi : 20 Km

Profil Singkat Desa Cimekar
Perbukitan Desa Cimekar - Dok. Pemerintah Desa Cimekar

Profil Singkat Desa Cimekar
Area Persawahan Desa Cimekar - Dok. Pemerintah Desa Cimekar

Wilayah Desa Cimekar

Desa Cimekar terbagi menjadi 5 (Lima) wilayah Dusun dan setiap dusun diayomi oleh Kepala Dusun (KADUS), 32 (Tiga puluh dua) Rukun Warga (RW) dan 170 (Seratus tujuh puluh) Rukun Tetangga (RT), yaitu:

Dusun I terdiri dari 8 RW
  • RW 03 Kp. Tagog Kulon dengan jumlah Rt = 8 RT
  • RW 04 Kp. Tagog Wetan dengan jumlah Rt = 4 RT
  • RW 15 Kp. Tagog Kidul dengan jumlah Rt = 6 RT
  • RW 23 Komp. Bumi Panyawangan dengan jumlah Rt = 7 RT
  • RW 29 Komp. Permata Biru dengan jumlah Rt = 6 RT
  • RW 30 Komp. Bumi Orange dengan jumlah Rt = 6 RT
  • RW 31 Komp. Bumi Orange dengan jumlah Rt = 7 RT
  • RW 32 Komp. Bumi Orange dengan jumlah Rt = 6 RT
Dusun II terdiri dari 7 RW
  • RW 01 Kp. Margamulya dengan jumlah Rt = 4 RT
  • RW 02 Kp. Babakan Pandan dengan jumlah Rt = 6 RT
  • RW 05 Kp. Cikalang dengan jumlah Rt = 4 RT
  • RW 06 Kp. Pasirkawung dengan jumlah Rt = 8 RT
  • RW 14 Kp. Babakan Cikeruh dengan jumlah Rt = 4 RT
  • RW 17 Kp. Pasantren dengan jumlah Rt = 3 RT
  • RW 19 Kp. Goyang dengan jumlah Rt = 4 RT
Dusun III terdiri dari 5 RW
  • RW 07  Kp. Sukahaji dengan jumlah Rt = 7 RT
  • RW 08 Kp. Pasirwangi dengan jumlah Rt = 5 RT
  • RW 18  Komp. Bina Karya II dengan jumlah Rt = 7 RT
  • RW 21 Komp. Bukit Mekar Indah dengan jumlah Rt = 7 RT
  • RW 27 Kp. Sukahaji Kidul dengan jumlah Rt = 5 RT
Dusun IV terdiri dari 7 RW
  • RW 09 Kp. Cisitu dengan jumlah Rt = 5 RT
  • RW 11 Kp. Pasirpari dengan jumlah Rt = 5 RT
  • RW 13 Komp. Bina Karya I dengan jumlah Rt = 5 RT
  • RW 24 Komp. Manglayang Regency dengan jumlah Rt = 8 RT
  • RW 25 Komp. Manglayang Regency dengan jumlah Rt = 6 RT
  • RW 26 Komp. Manglayang Regency dengan jumlah Rt = 5 RT
  • RW 28 Komp. Manglayang Regency dengan jumlah Rt = 4 RT
Dusun V terdiri dari 4 RW
  • RW 10 Kp. Sukamaju dengan jumlah Rt = 5 RT
  • RW 12 Kp. Sekejengkol dengan jumlah Rt = 2 RT
  • RW 16 Kp. Sekecariu dengan jumlah Rt = 5 RT
  • RW 20 Komp. Villa Bandung Indah dengan jumlah Rt = 2 RT
  • RW 22 Komp. Bumi Langgeng dengan jumlah Rt = 4 RT
[Sumber: Pemerintah Desa Cimekar]
Share:

Gambaran Umum Desa Cileunyikulon

Gambaran Umum Desa Cileunyikulon

Kondisi Geografis

Secara geografis Desa Cileunyikulon Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, terletak pada Koordinat 106” 36 BT dan 5 – 50 LS, Iklim wilayah Desa Cileunyikulon di pengaruhi oleh iklim pegunungan di sekitarnya. Dan secara administratif, Desa Cileunyikulon Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, berbatasan dengan :
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Gunung Manglayang/Desa Cibiruwetan.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Cileunyiwetan.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tegal Sumedang.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Cimekar.
  • Ketinggian dari permukaan laut + 750 m.
  • Banyaknya curah hujan + 2275,50 mm/tahun.
  • Tofografi dataran tinggi.
  • Suhu udara rata-rata + 24 – 30 oC
Jarak orbitasi Pemerintahan:
  • Dari Pemerintah Kecamatan berjarak : + 0,5 KM
  • Dari Pemerintah Kabupaten berjarak : + 37 KM
  • Dari Pemerintah Propinsi berjarak : + 18 KM
  • Dari Pemerintah Pusat berjarak : + 154 KM
Demografis

Desa Cileunyikulon, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, mempunyai luas wilayah + 489,174 Ha, dengan luas menurut penggunaannya sebagai berikut :
  • Luas pemukiman : 157.66 ha/M2
  • Luas persawahan : 115 ha/M2
  • Luas perkebunan : 99 ha/M2
  • Luas kuburan : 0.40 ha/M2
  • Luas pekarangan : 104 ha/M2
  • Luas taman : 1.50 ha/M2
  • Perkantoran : 0.11 ha/M2
  • Luas prasarana lainnya : 11.5 ha/M2
  • Total luas : 489.174 Ha/M2
Terbagi dalam wilayah administratif 8 Dusun, 26 Rukun Warga (RW) 115 Rukun Tetangga (RT), Jumlah penduduk Desa Cileunyikulon akhir Desember 2013 sejumlah 21.230,- jiwa, Jumlah Kepala Keluarga 5.865,- (KK) dengan rata-rata kepadatan penduduk 230 jiwa/per km dan Laju Pertumbuhan Penduduk ( LPP ) ± 2 %.

Peta Wilayah Desa Cileunyikulon

Gambaran Umum Desa Cileunyikulon, peta desa cileunyikulon

[Sumber: Pemerintah Desa Cileunyikulon]
Share:

Nu Matak Muringkak di Majingklak

Karya Nyi Roro

Nu Matak Muringkak di Majingklak, warta cileunyi
Ilustrasi: Agus Mulyana
Taun tujuh puluh dapalanan, kuring kapeto jadi ketua senat di kampus salah sahiji paguron luhur di Bandung. Sakumaha nu geus direncanakeun ti anggalna yén bakal diayakeun bakti sosial di wewengkon Majingklak, nyaéta hiji lembur nu pernahna di sabudeureun Nusa Kambangan, Rawa Lakbok - Ciamis.

Sakumaha ilaharna mun rék ngayakeun bakti sosial, saméméh prak kudu ditingali heula kaayaan lemburna, ceuk basa Indonesia téa mah “survey lokasi”. Nu miang ukur tiluan, kuring, Anto jeung Satrio. Anto bari ngagandong ransel tumpak  motor Honda CB, kuring diboncéng ku Satrio kana motor BMW.

Indit ti Bandung bada lohor. Nepi ka hiji lembur nu teuing naon ngarana, wanci geus ngagayuh ka Magrib. Kuring jeung babaturan ngaraso bari dalahar heula di hiji warung di sisi jalan.

“Pa, upami badé ka Majingklak ti palih dieu teras kamana nya?” kuring nanya kanu boga warung.

“Dupi Encép ti palih mana téa? Badé aya pikersaeun naon ka Majingklak sosontenan kieu?” tukang warung kalahka malik nanya bari kerung.

“Ti Bandung, Pa. Tos paheut jangji, badé ngadeuheusan ka Pa Kuwu Majingklak. Aya peryogi,”walon kuring bari tuluy ngaregot gelas eusi cientéh haneut.

“Ti palih dieu mah aya dua jalan. Nu hiji ngalangkungan gunung kapur tapi rada tebih. Jalan nu hiji deui mah caket, mipir-mipir walungan Citanduy. Atuh tos wengi kieu mah saéna mending kénéh karulem di dieu. “Énjing diteraskeun deui,”ceuk tukang warung.

“Naha kunaon kitu Pa?” Satrio nanya.

“Sanés nyingsieunan Bapa mah. Urang dieu ogé tara aya nu wantuneun wengi-wengi ngulampreng ka dinya. Komo ayeuna mah malem Juma’ah ping 1 Kaliwon deuih. Bilih kumaha onam,” ceuk tukang warung  hariwangeun.

Gebeg, enya geuning ayeuna malem Juma’ah! Kuring silih pelong jeung Satrio, tuluy ngarérét ka Anto.  Tapi dasar si Anto budak Wanadri téa… wanian!

“Halakh, sieun ku naon atuh? Da urang ka dieu téh boga niat alus. Ké geus Isa mah hayu urang arindit! Bisi kapeutingan mantén!” ceuk si Anto bari cacamuilan ngadahar goréngan. Dikitukeun mah kuring éléh déét. Ba’da Isa, kuring tiluan amitan ka tukang warung.

Najan reyem-reyem ngan ukur dicaangan ku sorot lampu motor, kuring masih bisa niténan kaayaan sakurilingna. Mimiti mah enya kaciri jalan nu disorang téh, di beulah kenca walungan Citanduy téa. Di beulah katuhu kebon eurih mani jarangkung. Katingali ti kajauhan aya sababaraha imah  nu rada paanggang. Tapi, beuki lila geus teu katingali di beulah katuhu aya imah, da euweuh listrik nu hurung.

Kaayaan jalan nu leutik ngabalukarkeun motor teu bisa sajajar. Antukna motor kuring ti heula, dituturkeun ku motor Anto. Kaayaan sepi jempling, iwal ti sora motor jeung gaang nu réang. Di satengahing jalan, kasebrot ku lampu motor ti lebah hareup katingali aya jelema keur leumpang.

Ningali aya motor ti tukang, éta jelema nyisi méréan jalan. Reg, motor kuring eureun dituturkeun ku motor Anto.

“Mang, badé angkat kamana?” ceuk kuring nanya ka éta jelema.

“Aéh Jang, Emang badé ka tungtung lembur. Numawi ieu téh kawengian wangsul ti dayeuh. Kumargi hoyong téréh dugi, nya kapaksa baé nikreuh,”ceuk éta lalaki tengah tuwuh.
“Geuning urang sajurusan Mang? Hayu atuh, ngiring baé kana motor abdi,” ceuk Anto nawaran. Éta lalaki nu ngawanohkeun manéh ngarana Ahrom, katangen mani atoheun pisan.

“Jang, tos baé dugi ka dieu. Tuh, rorompok Emang mah palih ditu,”ceuk Mang Ahrom nunjuk ka sababaraha imah nu pernahna di lebakkeun jalan, katingali aya célak célak obor di hareupeun hiji imah.

“Har, ituh Emang… manawi téh badé ngajajapkeun abdi dugi ka ditu? Énjing nembé mulih deui sasarengan ka dieu,” ceuk Anto ngalengis hayang dianteur.

“Moal Jang, karunya ka barudak Emang pasti geus narungguan oléh-oléh. Omat nya Jang, ti dieu terus wéh mapay jalan satapak. Ké di palebah pengkolan kudu ati-ati, didinya aya batu peuntaseun walungan. Tah, di dinya téh paragi munjung keur jalma-jalma nu hayang téréh beunghar. Kadé ulah wani wani tunyu-tanya ka saha baé oge. Mun manggih jeung naon waé tong dipaliré,” ceuk Mang Ahrom mére pepeling bari tuluy amitan.

Dius deui kuring tiluan indit. Enya waé, di lebah péngkolan mani nyambuang seungit menyan jeung kekembangan. Bulu punduk ngadak-ngadak maruringkak mani asa kandel. Kagok jauh, kebat baé. Lempeng, teu luak lieuk.

Kasorot ku lampu motor katingali aya aki-aki maké baju hideung, sirahna maké iket, disoléndang sarung. Aya nu matak hémeng, kuduna mah geus sakitu kakolotanana éta aki-aki teh leumpangna bongkok, tokroh-tokroh kundang iteuk. Ieu mah alah batan budak ngora jagjag belejag, leumpangna gé bari acleng-aclengan jiga nu ngajlengan batu-batu tincakeun.

Reg éta aki-aki eureun, tuluy nulak cangkéng. Pameunteuna baketut haseum. Halisna nu geus huisan duanana carengkat. Durilak-durilak, éta panon aki-aki ngadurilak. Durilak ka Satrio, tuluy ka kuring, panungtungan ka Anto.

Di tukangeun éta aki-aki aya wanoja leumpang, tapi naha siga nu ngageuleuyeung? Beuki lila beuki deukeut. Gusti! Karék harita kuring ningali aya wanoja sakitu geulisna. Éta wanoja maké raksukan kabaya bodas siga pangantén. Rambutna nu panjang ngarumbay katebak angin. Aya siger nu patinggurilap dina sirahna.. Leungeunna nu curentik nyekel tungtung karémbong, lir putri turun ti kahyangan
Panon putri nu cureuleuk mencrong seukeut. Halisna ngariut, pameunteuna siga nu bendu. Motor nu keur ditumpakkan ku kuring rada gagaléongan, cigana pipikiran Satrio teu bisa museur. Inget kana pépéling Mang Ahrom, kuring nepak tonggong Satrio bari ngaharewos nompo kana ceulina, “Yo! Istigpar euy! Lempeng, tuluy ka hareup!”.

Kuring tiluan keukeuh nyekel papatah ti Mang Ahrom, daék teu daék maju ngadeukeutan Si Aki jeung Nyi Putri. Dua rombongan adu hareupan, sarua pada-pada arembung éléh. Kasebrot ku lampu motor panon si Aki beuki molotot, bahamna kekerot, leungeunna tipepereket siga nu hayang ngerekeb-ngerekeb baé.

Satrio ngagas motorna, nyakitu deui Anto. Si Aki jeung Nyi Putri beuki lila beuki deukeut... beuki deukeut... beuki deukeut... Kuring geus teu kuat awahing ku sieun. Awak ngadegdeg. Biwir kekerenyeman maca sagala rupaning susuratan. Panon dipeureumkeun. Teu lila... Wush! Wush! Karasa, aya angin dua kali ngahius.

Sanggeus rada jauh, kuring tiluan eureun heula bari silih pelong tapi euweuh nu ngomong sakemék-kemék acan. Reuwas kareureuhnakeun. Gerung deui motor nu ditumpakkan nuluykeun deui lalampahan. Aya kana satengah jamna, di hareup katingali ting kariceup cahaya obor. Ceuk kira-kira kuring mah, sigana éta lembur Majingklak.

Alhamdulillan, teu lila anjog ka nu di tuju, geus loba jelema ngagimbung marawa obor. Ujug-ujug aya lalaki rada kolot nyampeurkeun ka kuring tiluan.

“Wilujeng sumping Cép, syukur tos salalamet mah. Bapa kenging wartos ti Pa Camat yén badé aya tamu mahasiswa ti Bandung. Urang dieu mani tos élékésékéng, dareudeupeun. Ari manawi téh badé sarumping sonten bada Ashar, ari pék tos badé tengah wengi geuning? ”sihoréng Pa Kuwu nu ngabagéakeun. Kuring jeung babaturan ukur imut bari nyolongkrong ngajak sasalaman ka pribumi.
Pa Kuwu langsung ngahaturanan ngarereb di imahna.

Sajeroning leumpang Pa Kuwu culang-cileung siga nu sieun aya nu ngadéngéeun. Manehna tuluy nanya lalaunan,“Sanés Cép, dupi tadi di jalan teu mendak nanaon? Pan ayeuna téh malem Juma’ah Kaliwon. Tara aya pamayang nu unggah ka laut, da Nyi Putri nu ngawasa laut kidul sok ngaroris jalan-jalan diréncangan ku badégana nu tos aki-aki”. Kuring, Satrio jeung Anto teu ngajawab, kalahka ngadon papelong-pelong.

***

Saung Indung, 30 September 2013

[Sumber: Manglé Online]
Share:

Abah jeung Laptop

Karya Hikmat Nugraha

Abah jeung Laptop, warta cileunyi
Abah Dira andekak sila nyanghareupan parukuyan, nyeungeut menyan, mapatkeun ajian keur ngalawan nu cenah rék neluh pasénna. Karasa siga aya témbakan nu malikkeun deui, manéhna ngarumpuyuk. Karasa teu ngarareunah. Dicobaan deui, teu bisa hudang. Teuing saha nu wani-wani ngalawan ka manéhna, pokna ngomong sorangan.  Abah Dira aduh-aduhan nyekelan dadana. Manéhna maksakeun hudang tuluy ngadeukeutan pasénna.

" Sabar wé heula, nya Jang, engké urang akalan deui," pokna. Pasénna mulang. Abah nyampeurkeun Adun, nu keur ngetik.

“Eta téh barang naon Jang?”cék Bah Dira.

“Laptop, Bah.”

“Bisa neluh teu?"

“Nya teu tiasa atuh Abah!”

“Lamun hayang loba pasén bisa maké laptop teu?"

“Tah mun éta tiasa. Keun ku abdi dipangdamelkeun facebook, twitter jeung instagram ogé Whats Ap-na. Tenang wé Abah mah nu penting seueur pasén.”

Dina facebook Adun masang iklan siga kieu:

Hoyong lancar sagala rupa datangan Abah Dira di Kampung Soméah Babakan Janglar. Dijamin tokcer!

Enya wé teu lila sanggeus nyieun iklan dina facebook, rabul nu daratang. Lolobanana mah ibu rumah tangga nu pegat jeung salakina. Hayang jodo deui cenah mah.

Krang-kring  HP téh, beuki rabul nu datang ka imah, saprak dipangnyieunkeun facebook, twitter jeung instagram ku Adun incuna

“Bener,  Jang, cékgur ogé nya saran silaing!”

“Ngaliwatan média sosial mah gampang atuh Abah. Tong boro di daérah urang. Dalah luar negri gé bisa.”

“Maksudna?"

“Lamun Abah hoyong pasén ti luar negri minimal basa Inggrisna kudu fluently.”

“Naon tatéh?”

“Lancar. Kumaha wé mun Abah nyarios basa Sunda.”

“Abah mah hayang éta, Dewi Anggraeni jeung Radiul pasénna.”

“Kedah berteman heula atuh Bah jeung éta dua artisna.”

“Kudu diubaran éta dua mahluk awéwé téh sabab aya energi negatip dina awak duanana. Minimal kudu diberesihan.”

“Kumaha carana?”

“Erhaés, atuh Jang.”

Bener wé beuki dieu Abah Dira beuki kajojo ku laptop utama facebook, sanajan dibantuan ngetikna ku Adun.  Pasén beuki ngalobaan. Abah Dira teu bisa nahan. Antukna jadi pecandu facebook. Adun ngantep akina ayeuna mah, da tinggal mencét program. Tuluy wé Abah Dira sina anteng facebook- an.

Unggal poé saméméh indit ka kampus, Adun muka heula laptop keur Abah Dira digawé. Da ayeuna mah Abah geus ninggalkeun parukuyan nu eusina menyan jeung sabangsaning kembang ku facebookan jeung twitteran.

Abah Dira ngahuleng. Bingung. Sabab aya pasén nu ti luar nagri téa. Pilipina jeung Bulgaria. Mangkaning teu ngarti deuih basana.

“Téga nya Si Adun ka Abah, urusan nu kieu diantep.”

Tungtungna mah layar laptop téh diantep hurung terus. Da jam geus manjing ka soré, diantep teu dipareuman laptop téh da teu bisa mareumanana. Cicing wé Abah Dira dina tepas bari narima sms ti pasén-pasénna, nepi ka Adun balik.

“Bah, hurung kénéh geuningan laptopna.”

“Duka téh teuing. Abah mah teu bisa mareumanana.”

“Tinggal klik program jeung klik shutdown wé Bah.”

“Ah lieur.”

“Kumaha Abah hasil facebookan téh?”

“Teu katahan. Murudul. Loba teuing.”

“Tadina pan hoyong seueur pasén. Geus seueur Abah mah kalahka ngarahuh.”

“Alus-alusna mah maké laptop téh. Ngan dina teu bisana kawas kamari. Lieur Abah mah. Meugeus ah Abah mah rék ninggalkeun laptop forever,” cék Abah Dira.

“Eta-éta Si Abah basana gaul,” cék Adun.

“Pan diajar ti silaing,” témbah Bah Dira.

Saprak loba pasén Abah Dira geus teu kaburueun ngaroris dirina. Antukna Abah Dira gering parna. Awakna garing, begang deuih. Panonna celong. Nu tatamba teu apaleun kana kaayaan dirina. Abah Dira mikir, enya ogé  pasén beuki loba, duit beuki metet dina kantongna, tapi ari matak gering mah mendingan balik deui ka baheula, sila ipis bari ngadagoan parukuyan.

“Abah Dira aya?” cék pasén nu rék tatamba.

“Nuju tapa heula milarian ilapat,” ceuk Adun.

Lila-lila mah loba nu panasaran naha Abah Dira tara prakték deui? Naha Abah Dira gering atawa memang keur sibuk pisan?  Adun mah tetep wé ngajawabna tapa heula. Padahal mah Adun gé apaleun pisan kana kaayaan Abah Dira nu teu miroséa diri demi duit.

Dasar kudu katohyan, pasén awéwé nu ngaranna Nyai Edas ujug-ujug datang ka imah Abah Dira. Katempo Abah Dira keur ngagolér bari disimbut kandel. Humarurung. Humaregung.

“Sampurasun,” cék Nyi Edas.

“Rampéés,” cék Abah Dira.

“Geuningan Abah téh aya.”

“Ceuk saha euweuh?” Témbalna, rada ambek.

“Incu Abah, nyebutkeun pajar Abah keur tatapa heula néangan ilapat,” cék Nyi Edas deui.

“Lain atuh Nyai, Abah téh geus saminggu ieu gering. Capé teuing ngubaran.”

“Har, piraku tukang tutulung gering?”

“Da jelema atuh Nyai, Abah teh.”

 Nyai Edas teu jadi tatamba ménta ubar ka Abah Dira ningali kaayaan kitu mah. Nyai Edas balik deui ka imahna.

“Rék kumaha bisa ngubaran batur, manéhna gé gering, teu bisa ngubaran,” cék Nyai Edas.

Abah Dira terus mikiran diri naon ubarna sangkan kuat deui, tur bisa 'praktek' deui. Da ayeuna mah teu bisa nanaon. Abah Dira bati ngahuleng loba pasén nu teu datang deui ka imahna. Abah Dira inget kana mimiti nulungan nu susah tara ieuh gering parna kawas ayeuna.

Abah Dira neuteup laptop ti kamar nu geus maturan keur néangan kipayah sapopoé. Laptop ayeuna dipaké deui ku Adun nu bogana. Laptop nu méré rejeki leuwih ti batan parukuyan. Laptop dibawa deui ka kamar Adun. Keur facebookan, twitteran nepi ka jam dua belas peuting. Laptop tetep hurung teu dipareuman ku nu bogana. Abah Dira tetep cicing di kamarna nyanghareupan parukuyan nu eusina menyan. Teu poho duwegan jeung sabangsaning kekembangan. Laptop geus teu maturan deui  Abah Dira ayeuna mah. Tapi pasén lebeng tacan aya nu datang deui.

***

Panglawungan 13

[Sumber: Mangle Online]
Share:

Samoja Kembangan Deui

Karya Cucu Rahmat

Samoja Kembangan Deui, warta cileunyi
Ilustrasi: Agus Mulyana
“Ari Inez ku naon sih? Hallooww… ditingali ti tatadi meuni taya ka capé. Ngawut-ngawut pakéan tangka pabalatak kitu dina kasur. Murudulkeun eusi lomari. Ukur diteuteup, terus ditilepan, diasupkeun deui kana lomari. Ayeuna ngasupkeun alat-alat kacantikan kana koper, geus ngéntép dikaluarkeun deui, capé déééhhh…” Éva norowéco bari nepak tarang.

 “Keur galau Év...”

“Maksud loh?” Éva nengetan baju-baju sexy—anu dipisahkeun jeung baju-baju anu nyopan.

“Teuing ah…”

“Jadi dong mudik taun ayeuna?” Éva ngarongkong gamis bodas nang meuli kamari di ITC, laju dangdak-déngdék hareupeun eunteung.

“Bingiiittt! Tapi…,”

“Aya naon béb?” Éva mencrong.

Ngabetem.

“Ngobrol atuh..?”

“Teuing aahh…”

Éva anteng deui dangdak-déngdék hareupeun eunteung.

“Geulis nya, Éva? Bodo wé kang Adnan mah.” semu ogo.

Kuring neuteup Éva. Enya, pangawakanana alus pisan. Sampulur. Geulis bawana ngajadi.

Tapi kétah, kuring gé teu éléh ku Éva, sarua geulisna, sarua sampulurna. Malahan mah béda sed meunang kuring saeutik, rada jangkung. Matak mun maké high heels téh, pangjangkungna wé. ‘Bagus ih… kamu mah jangkung, teu cara Amél, semampai…’ bari rut rét ka luhur ka handap. ‘Naon sih semampai téh?’ Éva ngajanggilek. ‘Seméter tak sampai hahaha...’ kitu mun Éva jeung Amél geus ngagonjak téh.

“Nez…, ieu kanggo si ema. Iraha-iraha Amél hoyong amengan ka bumi Inez, hoyong pendak sareng ema Inez.” Amél norojol bari mawa kado dikérésékan.

“Nuhun Mél. Gampang, konték-konték wé.”

“Amél gé bakal indit ti dieu. Hayang leupas. Hayang hirup anu bener. Capé ngagugulung waé napsu.”

“Éva ogé…”

“Sukur atuh. Mudah-mudahan urang saréréa aya dina panangtayunganana.”

“Amiinn…” réang.

Kuring, Amél jeung Éva siligabrug. Salila dua taun hirup saimah, susah senang babarengan. Ka mamana babarengan. Tapi ti mimiti isukan bakal papisah. Haté geus gilig rék milih jalan kahirupan nu bener, ngaleupaskeun jalan nu ayeuna keur disorang.

“Tuh hapé sada. Bang Ér jigana mah.” Éva giak ngabéjaan.

Lagu wedi karo bojomu meuni ngoncrang. Anéh, kadéngéna bet kawas anu ngaléléwéan ayeuna mah, padahal éta lagu téh karesep…

“Antep lah, males!”

“Naha?”

“Teuing aahh!”

“Angkat ku Éva, nya?”

Unggeuk.

“Halo…,”

“Éh… ulah kétah, kadieukeun!” buru-buru ngarawél hapé dina leungeun Éva.

“Halo…”

“Halo… kumaha janten dianteur téh?”

“Euuu.., duka atuh nya.”

“Iiihh… sok atuh puguhkeun heula. Meungpeung tos nyieun alesan, dines ka luar kota.”

“Euuu…”

Pluk. Hapé leupas dina cekelan.

“Halow… haloowww…”

Ukur diteuteup...

“Halow… haloowww…”

“Kamu téh ku naon sih?” Amél mencrong.

Gideug lalaunan.

***

Réngsé tarawéh, muka jandéla.

Tadarusan réang di unggal masigit, husu ngagungkeun asma-asma Ilahi. Ting jaraul, jujul mapakan alam luhur. Alam kasampurnaan mungguh Pangéran. Alam di mana ngancikna Alal arsistawa, kanimatan anu tan wates wangen. Kanimatan anu salila ieu kaluli-luli. Kalah pogot ngudag-ngudag kanimatan anu leutik, napsu dunya. Emhh rumaos Gusti…

Sugan dina Romadon nu ayeuna, bisa ngumpulkeun deui kakuatan anu salila ieu ilang. Sanggup nyanghareupan anu sakuduna disanghareupan dua taun ka katukang. Bari ngaderes, ngahanca  deui tapak anu beresih.

Da geuning, dirasa-rasa kalah tambah nalangsa. Diantep-antep kalah beuki nyeuit. Mohaka karasana.

Aya kasono anu ngagalura, kawas neumbragan kikisik sagara. Aya raheut anu ngagaredat mapay-mapay rungga, garudawang. Mahalan nepi ka ayeuna nyerina can ilang. Kalah beuki nyiksa. Nanahan jeung lukutan.

“Bongan ngajurung napsu. Saha anu melak, saha anu ngala. Hadé pasti hadé, goréng pasti goréng. Moal pahili.” harita ema ngaguk-guk bedah cimata.

Emaaa… Ineu sono ka ema…teu kiat nandanganana. Ineu ampun, moal sakali-kali deui kikieuan. Tobat, ampuunn… emaaa...

“Dodoja lain kudu dijauhan, angguran kudu disinghareupan kalayan sadrah. Tumamprak tumarima kana kadar, bongan urang salah lampah” leres kasauran ema, Ineu rumaos, kalah ngudag-ngudag kahayang, ngudag-ngudag kalangkang…
Treett… treeettt… treettt…

Hapé nu ukur maké nada getar disada.

Ditingali layarna. Sidik, bang Ér anu nelepon téh.

Treett… treeettt… treettt…

Ngarénghap jero pisan.

Treett… treeettt… treettt…

Lalaunan diangkat.

“Haloo…”

“Sia mangkelukna anu kumawani ngarebut salaki aing téh, hah?! Dasar ung…”

Gebeg!

“Sa…, saha ieu?” haroshos.

“Tangkurak sia! Api-api teu apal hah!”

Pluk! Hapé murag.

Gustiii…

***

Sapanjang jalan kawas keur lalajo sandiwara. Carita lawas piligenti narémbongan. Sababak-sababak ngalangkangan dina ingetan.

Basa kuring ngalajur napsu, ngarémpak kana sagala anu dicaram ku agama…

Basa ema kapiuhan ningali abah ngagegedur napsu. Nundung kuring—anak nu ngan hiji-hijina—teu sirikna kawas ka anak kirik…

Basa kuring jeung bang Ér susulumputan ti pamajikanana. Hirup pinuh ku nista jadi awéwé simpenan…

Basa…,

Geus! Dipungkas nepi ka dieu lalakon téh. Neukteuk leukeun meulah jantung. Carita nu ieu moal dibuka deui, komo dilakonan. Geus waktuna diganti ku kahirupan anu maslahat.

Treett… treeettt… treettt…

Ditingali layarna, nomer anyar.

Treett… treeettt… treettt…

Panasaran, laju diangkat.

“Halow…”

“Nez…, ieu bang Ér…”

Ngabetem.

“Inez di mana? Ning di bumi teu aya. Éva jeung Amél gé sarua teu aya.”

Ngabetem.

“Nez…, waler atuh.”

“Entos wé, bang. Jigana dugi ka dieu lalakon urang téh. Ulah ngarep-ngarep Inez deui.”

Hapé buru-buru dipaéhan.

Cimata bedah. Ngaguk-guk kanyenyerian. Tapi lain cimata kaduhung pédah pisah jeung bang Ér, tapi cimata kabungah. Ngucap sukur Alhamdulillah ka nu maha kawasa, boga tanaga pikeun eureun tina jalan anu teu munasabah.

Sanggeus nyusut cimata, rurusuhan turun tina mobil. Muru ka imah teu sirikna lumpat banget ku sono.

Kira-kira dua taun teu balik téh. Hayang ari balik mah, ngan teu bisa. Sabab sieun ku abah. Matak ti basa ditundung harita, hirup kadungsang-dungsang di Bandung. Pagawéan naon waé dilakonan keur numbu umur, teu paduli halal atawa haram. Nu ahirna papanggih jeung bang Ér di diskotik.

“Emaaa…”

“Emaaa…” muka panto kamar.

Di kamar suwung.

“Emaaa…!”

“Saha…?” nyelengkeung lebah dapur.

Mukakeun rérégan. Kasampak ema keur andiprek memener cangkang kupat.

“Emaaa..!! ieu Ineu, ma!!!” bari ngagabrug.

“Ineu? Ieu téh Ineu anak ema?”

“Muhun, ma.”

“Hatur nuhun, Gustiii…! Parantos mulangkeun anak ema. Hatur nuhun…”

Paungku-ungku…

Ukur cimata kuring jeung cimata ema nu bisa cacarita, mudalkeun sakabéh rasa. Lian ti éta taya nu sanggup ngagambarkeun kawas kumaha bungahna harita.

“Ké…” sanggeus sabarahalila.

“Abah hidep?” ema jiga nu surti.

Unggeuk.

“Iklaskeun…”

“Aya naon, ma?”

“Abah hidep geus taya dikieuna. Ti basa nundung hidep téh terus kagegeringan. Unggal poé nyanyambat hidep.”

“Abaahh…, Gusti nu Agung!!!”

“Éta gé kungsi nitahan jang ustad sangkan maluruh hidep di mana ayana, tapi weléh taya laratan.”

“Abaaahh… hampura Ineu, bah…” ngajéngkat rék ka luar.

Ema geuntak ngahalangan.

“Geus bageur, sing kuat. Geus peuting ayeuna mah. Isukan réngsé solat ied cuang ka pajaratan…”

“Abah bakal ngahampura ka Ineu, kitu?”

“Balungbang timur, caang bulan opat belas. Kolot naon ngaranna lamun teu ngahampura ka anakna.” ema imut leleb naker.

Nurutan imut, bari nyusutan cimata.

***

Bulan mabra narawangan. Anteng nyaangan peuting.

Mun dipapantes, jigana keur ngagantung di luhureun pajaratan. Nyaangan samoja, nyaangan kuburan abah, jeung kuburan-kuburan anu séjénna.

***

17 romadon, 15714

[Sumber: Mangle Online]

Share:

Wednesday, August 19, 2015

Aher Ingin Segera Bangun Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya

Aher Ingin Segera Bangun Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya
Ahmad Heryawan - Dok. Tempo
WARCIL - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan berencana mendaftarkan rencana pembangunan jalan tol Cileunyi-Tasikmalaya pada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). "Sudah ada pra-FS (feasibility study), kami segera mendaftarkan ke BPJT supaya segera masuk ke dalam rencana pembangunan tol nasional," kata Heryawan di Bandung, Selasa, 21 Juli 2015.

Aher, panggilan Ahmad Heryawan, mengatakan, jalan tol itu bisa menjadi alternatif bagi pengguna kendaraan melewati jalur selatan. Saat ini, kata dia, arus angkutan Lebaran menyebabkan kemacetan di jalur selatan sulit diurai. “Mau geser ke sebelah mana, kiri jurang, kanan gunung,” kata Aher.

Menurut Aher, jalan tol itu akan melengkapi rangkaian jalur jalan tol di Jawa Barat. Di utara misalnya sudah rampung jalan tol Cikampek-Palimanan atau Cipali. Lalu di jalur tengah ada jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan atau Cisumdawu yang dijadwalkan beroperasi 2017. “Jalan tol Cisumdawu akan bertemu dengan jalan tol Cipali di Dawuan, di dekat Bandara Kertajati yang sedang dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” kata dia.

Aher menuturkan, saat angkutan Lebaran ini, jalur selatan di kawasan Garut misalnya, menjadi lokasi pertemuan arus mudik lokal, arus wisatawan, arus mudik dari Jawa Tengah, yang sengaja lewat selatan, yang seluruhnya bertemu di Nagreg. “Yang kelihatan cukup macet itu di kawasan Garut secara umum,” kata dia.

Menurut Aher, pembangunan jalan tol Cileunyi-Tasikmalaya ditaksir menembus Rp 12 triliun. Soal pembiayaan pembangunannya, dia mengaku akan mengusulkan pada Presiden Joko Widodo menggunakan skema crowd funding.

Dia menjelaskan, skema crowd funding itu dengan mengumpulkan duit dari semua pegawai negeri sipil dari seluruh Indonesia yang jumlahnya 6 juta orang itu masing-masing Rp 100 ribu. Gantinya mereka menjadi pemegang saham jalan tol itu. “Saya mau ngomongin ke Pak Jokowi,” kata Aher.

Catatan Tempo, rencana jalan tol itu muncul sejak tahun 2013. Kepala Bappeda Jawa Barat Deny Juanda Puradimaja mengungkapkan, rancangan awal jalan tol Citas atau Cileunyi-Tasikmalaya sudah rampung. “Desain awal sudah selesai, rutenya sudah. Panjang 70 kilometer,” kata dia di Bandung, Senin, 2 September 2013.

Menurut dia, dalam rancangan itu, rute jalan tol akan dimulai dari eksit tol baru di jalan tol Padalarang-Cileunyi, di KM 150 selepas Gede Bage, menuju Limbangan, Garut. Jalan tol itu dirancang bersebelahan dengan jalan raya yang sudah ada mulai dari lingkar Nagreg, Limbangan, Gentong, serta berakhir di Rajapolah, Tasikmalaya. “Di Rajapolah itu exit pertama,” kata Deny.

Deny mengatakan, berbeda dengan jalan tol yang ada, jalan tol Cileunyi-Tasikmalaya dirancang untuk mendorong terbentuknya pusat pertumbuhan baru di selatan Jawa Barat. “Kalau jalan tol yang lain seperti Soroja, Cisumdawu, itu dibuat karena jalan yang ada sudah macet,” kata dia.

Deny mengatakan, jalan tol Cileunyi-Tasikmalaya sengaja dirancang untuk menjadi jalan tol perdana untuk membuka jalan tol yang lebih panjang lintasannya. Dia mengungkapkan, jalan tol itu bakal menjadi cikal bakal jalan tol lintas tengah selatan Jawa Barat, hingga ke perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah di Banjar. “Tapi kami mulai sampai sini (Rajapolah) dulu,” katanya. [Tempo.co]
Share:

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages